Kamis, 13 Desember 2012

[Fanfiction] Kyuhyun-Hyesung series 2 The Other Unforeseen event


Tittle              : [Kyuhyun-Hyesung series] The Other Unforeseen Event
Main Cast      : Shin Hyesung, Cho Kyuhyun
Support cast  : Park Junha, etc
Genre            : ?
Lenght           : Chaptered

Author POV

“Hanya berpura-pura saja dan itu tidak akan masalah” gumam Hyesung. Dia sudah terbaring di tempat tidur single size-nya dengan kepala menyembul dari balik selimut tebal berwarna krem. Peristiwa beberapa jam yang lalu kembali terbayang membuat di kepalanya dan membuat Hyesung serta merta meraba bibirnya. Hyesung kembali menutupi wajahnya dengan selimut. Berkali-kali dia menggerakkan tubuhnya tak nyaman karena gelisah.

“Atau kubatalkan saja? Sepertinya akan merepotkan nanti” Hyesung bangun dan meraih ponselnya yang terletak di atas meja kecil di samping tempat tidur.

Dia sudah ingin menekan ‘dial’ di kontak yang bernama Cho Kyuhyun. Ya, untuk berjaga-jaga mereka berdua bertukar nomor ponsel.


“Aish... Aku akan tampak seperti plin-plan dan payah kalau aku membatalkan sepihak setelah tadi membuat Kyuhyun percaya padaku kalau aku menyanggupi permintaannya” Hyesung melempar ponselnya ke kasur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

“Baiklah. Aku akan mencobanya. Hanya seperti itu tidak akan sulit. Toh Kyuhyun bilang dia akan memberi tahu apa yang harus kulakukan nantinya. Anggap saja ini sebagai balas budiku karena orang itu sudah menyelamatkanku kemarin. Lebih bagus lagi kalau dia melupakannya. Lihat saja nanti”

.

.

Hyesung POV

Hari ini hari terakhir Junha di Korea. Dia masih datang ke kampus hanya untuk sekedar mengucapkan perpisahan pada orang-orang terdekat seperti Jungsoo dan Donghwa sunbaenim, alumnus yang sekarang menjadi ‘Penjaga’ Laboratorium Bahan, Jongwoon dan Jiwon sunbaenim yang membantu Dosen Ahn mengurus Laboratorium Pengaliran yang sering di kunjungi Junha mengingat minatnya di bidang air sangatlah tinggi, beberapa Profesor yang memintanya menjadi asisten untuk tugas besar semester, Inha ‘noonim’nya yang belakangan ini selalu kami repotkan untuk mencarikan dan menahan beberapa buku struktur edisi lama  agar tidak dipinjam orang lain (aku sekalian mengambil buku mekanika kemarin yang kucari), bahkan sampai unnie penjaga cafe baca di dekat taman pinggir Sungai Han, Jihyo Unnie. Cafe itu tempat terakhir yang didatangi Junha dan dia memintaku ikut dengannya. Bukan tempat terakhir mungkin, karena setelah itu Junha berkeras untuk mampir ke rumah sewaanku.


Author POV


“Jadi kau akan segera pindah?” Junha terlihat sibuk di depan laptop putih milik Hyesung hingga  terdengar suara ‘klik’ dengan intensitas melebihi normal. Hyesung sendiri sibuk mengepak buku-bukunya ke dalam kardus besar.

“Hmmm.. Jumlah uang di rekeningku sudah mencukupi untuk membeli rumah itu. Beberapa hari yang lalu aku berhasil membujuk ayah dan beliau memberiku sejumlah separuh dari harga rumah itu”

“Aku tidak tahu persisnya kenapa kau ngotot sekali ingin membeli rumah itu, tapi melihatmu selalu bersemangat setiap kali bercerita tentang kakekmu, sepertinya rumah itu sangat penting.”

“Tentu saja sangat penting. Banyak sekali kenanganku bersama kakek di sana. Waktu itu setelah kakek meninggal, kondisi keuangan ayah memburuk dan beliau harus merelakan beberapa aset yang dimiliki keluarga kami termasuk rumah itu. Sebentar lagi rumah itu akan kembali. Dan kau tahu betapa bahagianya aku sekarang, huh?”

“Jadi kapan kau akan pindah ke sana?” sahut Junha di sela kesibukannya.

“Minggu depan. Besok aku akan melunasi pembayaran dan segera mengurus surat-suratnya. Kau berangkat pagi kan? Jam berapa tepatnya?” tanya Hyesung serta merta menghentikan pekerjaannya.

“Jam sembilan. Ini sudah selesai! Kemari!” Junha melambaikan tangan kirinya ke arah Hyesung.

Hyesung mendekati Junha dan Junha terlihat berbicara panjang lebar, sesekali dia menekan mouse dan menunjuk layar laptop dengan cursor.


***


Hyesung POV


Aku melirik jam tangan putih yang melingkar sempurna di pergelangan tangan kiriku. Jam delapan lebih lima belas menit. Di depanku Junha terlihat kerepotan dengan beberapa tas besar. Belum lagi koper ukuran Jumbo yang berdiri tegak mengelilinginya. Barang bawaannya banyak sekali. Aku tahu persis 3 dari 5 koper yang dibawanya itu berisi buku tebal yang pasti akan membuat minusku bertambah jika membaca semua buku itu dan mungkin otakku juga akan meledak. Terlihat seorang petugas bandara kemudian membantunya mendorong koper-koper itu. Junha berjalan ke arahku dan aku tersenyum.

“Dua tahun lagi kau akan seperti apa ya?” ucapku. “Aku bahkan tidak memberimu seperti yang orang lain berikan padamu ketika kau memberikan salam perpisahan kemarin. Kita sangat sibuk akhir-akhir ini dan kau memberi tahu keberangkatanmu tanpa menyisakan waktu untuk mempersiapkan sesuatu untukmu”

“Memang kalau kau tahu jauh-jauh hari, apa yang akan kau berikan padaku?”

“Mmmm.. Apa ya? Apapun yang kau mau dengan catatan apapun yang tidak menyulitkanku” jawabku cepat.  Tiba-tiba perasaanku menjadi sangat aneh. Perasaan ini hampir menyerupai perasaan sedih ketika kakek meninggal dulu, hampir sama dengan rasa takutku saat Jolie memasuki ruang operasi setelah tertabrak mobil.Jolie, anjing jenis pug, jenis anjing bertubuh kecil dan berhidung pesek yang kutemukan menyedihkan di jalan yang dan menjadi temanku selama bertahun-tahun selama di Busan.

Mengetahui perubahan di raut wajahku Junha mendekatkan tubuhnya dan memelukku hangat. Tanganku bergerak melingkar di pinggangnya. Aku sangat menyukai pelukan Junha. Seperti merasakan pelukan kakek ketika aku menangis dulu. Entah ketika dimarahi ibu atau bertengkar dengan temanku. Pelukan yang hangat dan menenangkan.

“Akhir-akhir ini kau cengeng sekali. Aku jadi sedikit ragu meninggalkanmu sendiri” Aku merasakan ketukan kecil di kepalaku yang membuatku melepaskan pelukanku dan mendongak ke atas. Junha tersenyum.

“Aku haus. Belikan aku Americano dingin. Bicara tentang permintaan dan pemberian, aku minta Americano” sahut Junha. Aku membulatkan kedua mataku ketika Junha menunjuk jam tangannya.

“Ah, baiklah. Karena aku tidak memberimu apa-apa, aku akan memberimu 2 permohonan. Satu Americano dan satu lagi apa?”

“Ya, kenapa begitu? Ganti-ganti! Aku ralat permintaanku. Itu terlalu mudah.. Ya Hyesung ah!” teriak Junha sementara aku sudah mengambil langkah meninggalkannya.

Aku berlari cepat menuju cafetaria. Takut Junha membuat permintaan yang aneh-aneh. Setelah mendapatkan minuman itu aku memberikannya kepada Junha. Junha menatapku.

“Apa lagi?” tanyaku.

“Sebenarnya masih banyak yang aku ingin kau melakukannya. Tapi karena waktunya sudah mepet, aku akan menundanya dan memintanya dua tahun lagi hahaha..”

“Ya! Permintaanmu itu hanya berlaku hari ini dan saat ini. Tidak ada untuk dua tahun lagi” gerutuku.

Sebuah suara menghentikan ucapanku dan sepertinya Junha harus segera masuk ke dalam pesawat.

“Baiklah, permintaan terakhir. Tunggu aku dua tahun lagi” Ucap Junha cepat dan serta merta dia langsung membalikkan badannya meninggalkanku.

“Tentu aku tahu kau pergi dua tahun... memang kau mau pergi berapa lama?” gumamku. Junha membalikkan badannya tersenyum ke arahku dan melambaikan tangannya.


***


Author POV


Hyesung tersenyum puas setelah menerima sebuah amplop cokelat dari seorang laki-laki paruh baya. Berkali-kali dia membungkukkan badannya sebelum dia berpamitan. Dengan taksi dia bergegas menuju distrik Eunpyeong. Dia berhenti di sebuah rumah klasik berhalaman luas. Rumah kakeknya, rumahnya dulu. Hyesung mengambil kunci dari amplop coklat yang dibawanya. Beberapa saat dia berjalan mengelilingi halaman rumah sebelum akhirnya memasuki rumah itu. Hyesung tersenyum puas karena rumah dan perabotan dasar di rumah itu masih sama seperti ketika keluarganya meninggalkan rumah itu dulu.

Hyesung merebahkan tubuhnya di sebuah sofa yang masih  berselimutkan kain putih. Dia mengambil ponsel dan menekan angka 1 cukup lama.

“Ayah, ayah tebak, sekarang aku ada di mana?” ucap Hyesung sambil memilin-milin anak rambutnya.

“Aku sudah mendapatkan rumah kakek ayah....”

“Ne....”

“Aku akan pindah beberapa hari lagi..”

“Ne.. emmm ayah, terima kasih..”

Hyesung menutup sambungan teleponnya dengan senyum menghiasi sudut-sudut bibirnya.

***

Beberapa hari ini Hyesung sangat bersemangat. Dia juga sudah terbiasa berkomunikasi via video chat dengan Junha. Meski di hari-hari awal setelah Junha terbang ke Belanda dia merasakan sesuatu yang hilang, tapi sedikit demi sedikit dia mulai bisa mengabaikan perasaannya itu. Ditambah lagi beberapa jam ke depan dia akan kembali ke tempat yang sangat ia rindukan. Ya, di rumah masa kecilnya.

Dengan perasaan girang seperti anak kecil yang tahu ayahnya akan memberikan boneka baru untuknya di hari ulang tahunnya, Hyesung menarik koper-kopernya ke dalam mobil antar barang sewaan berikut dengan berpuluh kardus berbagai ukuran yang dia sendiri lupa isinya dibantu oleh paman sopir yang usianya mungkin hampir mendekati 40.

Butuh waktu hampir satu jam untuk mengosongkan rumah sewaannya itu dan diperlukan tambahan waktu satu setengah jam lagi hingga Hyesung sampai di sebuah rumah klasik di distrik Eunpyeong, rumah yang dia datangi beberapa hari yang lalu.

Setelah memberikan ongkos dan paman sopir yang mengantarnya pergi, Hyesung lantas membuka pintu depan rumah. Ketika tangan kanannya menggerakkan kunci besi keperakan yang sudah tepasang sempurna di lubangnya, sebuah ekspresi aneh terukir di wajahnya. Pintu sudah dalam keadaan tidak terkunci.

Ahjussi, anda di dalam?” ucap Hyesung sedikit keras. Dia melangkahkan kakinya memasuki rumah itu dengan hati-hati.

“Jung ahjussi..?”

Baru beberapa langkah dia memasuki ruang depan yang berfungsi sebagai ruang tamu, Hyesung dikagetkan oleh seekor anjing yang tiba-tiba muncul di ruangan itu dengan gonggongannya. Anjing boxer jantan yang cukup besar. Di tengah kekagetannya itu Hyesung refleks berjongkok dan perlahan menyentuh kepala anjing itu.

“Aku baru tahu kalau paman mempunyai anjing sebesar ini. Hai... Di mana Jung ahjussi? Apa kalian datang ke sini untuk menyambutku?” ucapku sambil terus mengelus bagian kepala di balik telinga anjing boxer itu. Hyesung lalu melihat sekeling. Semua kain putih yang menutupi beberapa perabot yang dilihatnya terakhir dia ke sini sudah lenyap dan ruangan tampak lebih bersih dari waktu itu. Terpesona dengan sikap anjing yang tampak bersahabat didepannya, kali ini Hyesung memeluk leher anjing itu dan menggaruk-garuk bagian sensitif di belakang telinga si anjing yang tegak waspada.

“Oh, kau benar-benar tampan!” seru Hyesung lembut. Si anjing mendesakkan tubuhnya ke dalam pelukan Hyesung dan membuat tawanya meledak.

Kedatangan seseorang tak lama setelah itu tidak hanya membuat tawa Hyesung terhenti tapi membuat tubuhnya kaku di tempat. Melihat sosok di depannya itu sontak membuat pikiran Hyesung melayang ke sebuah peristiwa satu minggu yang lalu yang membuatnya merasakan insomnia akut karena gelisah ganda. Pertama karena kepergian Junha ke Belanda yang terkesan mendadak dan Kedua karena orang itu telah mencuri ciuman pertamanya dengan alasan yang tidak masuk akal  baginya. Bahkan mengenai perjanjian itu, dia sudah merasa sedikit lega karena setelah peristiwa itu, orang itu tidak menghubunginya meskipun mereka sudah bertukar nomor ponsel. Dan kesibukannya satu minggu ini membuatnya hampir lupa dengan perjanjian itu meskipun dia tidak benar-benar lupa dengan orang yang membuatnya menyetujui kesepakatan bodoh itu.

Begitupun dengan orang yang berdiri tegak di depannya yang sama-sama tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Tapi orang itu lebih cepat tersadar dibanding Hyesung yang sampai saat ini masih terduduk  dengan tangan masih melingkar di leher sang anjing.

Hyesung melakukan gerakan berdiri secara mendadak membuat anjing boxer itu sedikit menggeram dengan sikap waspada.

What are you doing here? Perhaps.. that uncle...” ucapan Hyesung teputus.

What do you mean by your ‘what are you doing here’ question? This is my house so what’s wrong if I’m here, in my own place?”

“Apa maksudmu? Paman Jung sudah menjual rumah ini padaku asal kau tahu itu. Dan ini rumahku sekarang, bukan rumahmu” Hyesung sedikit tegang. “Apa paman Jung tidak  memberi tahumu? Mungkinkah kau anaknya, Kyuhyun-ssi?” Hyesung lantas mengaduk-aduk isi tas punggungnya mengambil sebuah amplop coklat dan mengeluarkan lembaran kertas dari dalam amplop itu.

“Aku sudah membelinya dua hari yang lalu dan ini buktinya” ucap Hyesung lantas memperlihatkan akta tanah dan bangunan itu pada Kyuhyun.

Kyuhyun menerima surat-surat itu dan mengeceknya. Bola matanya bergerak meneliti surat itu. Tak lama ia masuk ke dalam dan kembali dengan beberapa lembar kertas lain yang setelah diperiksa oleh Hyesung, semua isi dan materialnya identik sama tak menunjukkan sedikitpun perbedaan menurut mata awamnya.

Hyesung menjatuhkan tubuhnya lemas. Dia kembali mengaduk kembali isi tasnya dan mengeluarkan ponsel. Tak lama dia mendengus kesal karena tidak berhasil menghubungi paman Jung.

“Tenangkan dirimu dulu. Aku juga ada di posisi yang sama sepertimu. Kita selesaikan bersama setelah kau tenang” Kedua anak muda itu telah mengetahui permasalahan mereka.

“Bagaimana bisa tenang? aku akan ke sana sekarang. Ke rumah paman itu. Ah, bagaimana bisa dia menipuku seperti ini setelah dia membuatku berterimakasih dan yakin padanya karena dia tidak menjual rumah ini pada siapapun dan menjaga isinya tetap sama tanpa ada yang berubah sedikitpun. Aku tidak percaya dia melakukan ini” Hyesung berdiri meninggalkan ruangan tapi dengan sigap Kyuhyun meraih lengannya dan membuat langkah Hyesung terhenti.

“Tunggu, kita pergi bersama. Dan akan lebih baik kau masukkan semua barangmu ke dalam kalau kau tidak mau dapat masalah”


***


Hyesung duduk lemas di samping kursi kemudi setelah mengetahui beberapa fakta yang membuatnya tidak bisa berkata-kata dan tidak tahu akan melakukan apa saat ini. Pertama, rumah Paman Jung kosong dan tidak ada seorang pun tetangganya yang mengetahui keberadaan Paman Jung dan keluarganya. Kedua, jumlah uang yang dikeluarkan Kyuhyun dua kali lipat besarnya dibandingkan dengan uang yang dia keluarkan yang membuatnya berpikir siapa yang lebih berhak atas rumah itu. Ketiga, dia tidak punya cukup uang untuk menyewa tempat tinggal karena sisa uangnya sangat cukup dia alokasikan untuk tetek bengek kuliahnya termasuk kerja lapangan yang harus dia lakukan bulan depan di luar Seoul dan itu butuh uang yang tidak sedikit. Keempat, ayah. Dia sangat khawatir ayahnya tahu apa yang terjadi. Dan yang kelima, kedua akta dan surat tanah berikut bangunannya yang paman berikan pada Hyesung dan Kyuhyun palsu. Mereka sudah mengeceknya di kantor pembuat akta tanah yang dengan mengejutkan seorang pegawai memberitahu kalau sekitar satu minggu lalu Paman Jung menggandakan surat-surat itu seperti aslinya. Dan si pegawai tidak tahu apa-apa. Isi kepalanya seperti beratus meter benang kusut menggumpal yang sulit ditemukan kedua ujungnya.

Mata Hyesung masih terpaku menatap buku rekening di tangannya. Kyuhyun mengemudikan mobilnya menuju titik awal. Di rumah entah milik siapa di distrik Eunpyeong.

Sesampai di rumah entah milik siapa itu Hyesung mengikuti langkah pria tinggi di depannya. Di depan pintu Kyuhyun menghentikan langkahnya dan memasukkan sebuah anak kunci besi keperakan. Hyesung mendengar gonggongan anjing setelahnya.

Basta, Macchiato!”

Begitu pintu terbuka anjing boxer jantan berwarna kecoklatan yang tadi sempat bercengkrama dengan Hyesung keluar menyambut Kyuhyun dengan penuh suka cita. Hyesung tersenyum tulus melihat tingkah anjing itu dan tanpa dia ketahui senyum tulusnya itu membuat mata Kyuhyun berbinar. Kyuhyun meraih anjingnya itu.

“Ini Macchiato. Kau sepertinya sudah bisa mengambil hatinya waktu pertama kalian bertemu tadi.”

“Hei, Macchiato. Kau juga harus menyambutnya.”

“ Hyesung-ssi, Mac akan melakukan tos dengan mu kalau kau mengulurkan tanganmu ke arahnya.”

Hyesung mengangangkat tangannya dengan telapak tangan menghadap ke depan. Macchiato mengangkat kaki depannya dan menepuk tangan Hyesung dengan kekuatan yang pas sehingga tidak membuat Hyesung terdorong jatuh. Hyesung kembali terpesona dan sejenak lupa akan kekhawatiran-kekhawatirannya beberapa saat yang lalu. Hyesung kembali menunduk dan memeluk anjing itu seperti yang dilakukannya tadi.

Anjing boxer itu lantas berjalan mengitari Hyesung, mengendus dan menjilat kaki dan tangannya.

“Bagi manusia dan seekor anjing yang tidak saling mengerti bahasa masing-masing, kalian tampaknya sudah menembus batas itu tanpa masalah sedikitpun” gumam Kyuhyun masam.

Hyesung menyadari tatapan tidak rela Kyuhyun kepadanya.

“Itu karena aku memang tergila-gila pada anjing. Sudah berapa lama kau memelihara anjing ini?”

“Delapan tahun”

“Bahagia sekali kau bisa terus berada di dekatnya selama itu.”

Bunyi dering ponsel menghentikan percakapan mereka. Hyesung meraih ponsel dari anak tas yang dari tadi setia bertengger di punggungnya. Mata Hyesung terbelalak untuk sepersekian detik memandangi layar ponsel sebelum dengan hitungan sepersekian detik berikutnya dia langsung menekan tombol terima dan menempelkan ponsel itu di atas telinga kirinya.

“Paman? Sebenarnya apa yang terjadi? Dari yang aku lihat, paman telah menipuku. Bagaimana bisa paman lakukan ini padaku. Pama telah berjanji padaku untuk tidak menjual rumah kakek kepada siapapun.”

“ Apa? Tapi buka seperti itu caranya paman. Sekarang paman di mana?”

“Apa? Apa yang terjadi? Bagaimana keadaan bibi sekarang?”

“.......”

“Baik, hubungi aku lagi nanti atau aku yang akan menghubungi paman. Dan paman jangan pernah berani mengganti atau membuang nomor ponsel paman karena kakek pasti akan marah kalau paman melakukan hal buruk padaku, cucu kesayangannya”

Hyesung menutup ponselnya dengan malas. Sibuk memikirkan apa yang harus dia lakukan.

“Paman Jung meminta maaf padaku dan juga padamu. Dia mengatakan kalau dia terpaksa melakukan hal ini karena istrinya sakit parah. Beberapa bulan lalu dia resign dari kantornya dan menekuni usaha rumahan sesuai minatnya, tapi dia gulung tikar karena tertipu temannya sendiri. Anaknya yang berada di luar negeri membutuhkan biaya besar untuk biaya hidup dan biaya kuliah. Sementara istrinya butuh operasi saat ini juga dan sebagian uang kita dia pakai untuk tetap bertahan meneruskan usahanya. Dan parahnya akta dan surat yang asli dia gadaikan sebagai jaminan. Apa yang harus aku lakukan?”

Kyuhyun sejak tadi masih di dekatnya dan Hyesung yakin Kyuhyun telah mendengar semuanya. Oleh karena itu dia memperjelas semuanya. Hyesung sedikit salah tingkah mendapati Kyuhyun memperhatikannya dengan tatapan menyelidik. Tapi persetan dengan itu karena perasaan Hyesung campur aduk sekarang.

“Dengan kondisi paman yang seperti itu aku merasa sedikit aneh setengah bersalah dan setengah tidak rela. Bahkan aku memakinya di sini dan masih memikirkan uang itu. Seharusnya paman memberi tahuku sejujurnya tanpa perlu membohongiku seperti ini sebelumnya. Apa yang harus kukatakan pada ayah? Ini benar-benar membuatku pusing. Selama di Seoul sedikit banyak paman telah membantuku karena beliau cukup dekat dengan kakekku dulu. Tapi tidak bisa dibenarkan juga dia melakukan ini bahkan dia memalsukan surat-suratnya. Mengingat ini membuatku sangat marah tapi bagaimana dengan istrinya? Bagaimana kalau tiba-tiba rumah ini disita?”

Suara Hyesung masih terdengar wajar, tapi mukanya memerah sekarang. Bahkan matanya terlihat berair. Hyesung memejamkan matanya hingga bulir hangat jatuh mengalir di pipinya dan Hyesung mengusap matanya dengan kedua tangannya. Belum sempat dia membuka matanya dia merasakan tubuhnya hangat karena pelukan seseorang. Kyuhyun mendekati Hyesung dan menarik tubuh Hyesung dalam pelukannya.

Hyesung sangat terkejut, tapi entah kenapa dia seperti mengalami de javu. Perasaan tenang seperti ini pernah dia rasakan sebelumnya. Ya, ketika tenggelam di pelukan kakeknya dan juga Junha. Dan sekarang orang yang masih cukup asing di depannya telah berhasil mengambil satu posisi lagi di hatinya. Hyesung kembali memejamkan matanya.

“Maafkan aku, tapi bisakah kau tetap seperti ini lebih lama lagi?” Hyesung lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Kyuhyun sama seperti ketika dia membalas pelukan kakeknya ataupun Junha. Kyuhyun mengeratkan tangan kirinya sementara tangan kanannya bergerak halus mengusap punggung Hyesung dengan lembut. Hyesung sangat menyukainya.

Pelukan mereka terlepas ketika Macchiato menggonggong.

Hyesung menatap Kyuhyun kikuk lalu meraih Mac ke dalam pelukannya.

“Aku akan memberimu tawaran. Kau mau mendengarkannya?” Kyuhyun duduk di atas sofa. Hyesung mengikutinya denga duduk di sofa berhadapan dengan Kyuhyun.

“Ya, emosimu cepat sekali berubah. Sama seperti waktu itu, tak berubah. Oke, sekarang dengarkan perkataanku sampai selesai. Dan kau bisa mengeluarkan pendapatmu setelah aku selesai”

“Aku tahu kita sama-sama membutuhkan rumah ini. Dan meskipun kau wanita, aku tidak bisa serta merta menyerahkan rumah ini padamu karena kau tahu sendiri kalau aku mengeluarkan uang lebih banyak darimu untuk rumah ini. Mengingat Paman Jung yang tidak kita ketahui keberadaannya, menurutku masalah kita ini tidak akan selesai dalam waktu yang singkat. Ditambah lagi tadi kau terlihat gelisah melihat rekeningmu, aku bisa menebak kondisi keuanganmu saat ini. Ditambah lagi kau sangat dekat dengan Macchiato, bagaimana kalau kau tinggal di sini. Maksudku, anggap saja kita punya investasi terhadap rumah ini jadi kita bisa menggunakannya bersama-sama. Kita bisa membuat semacam aturan agar kita sama-sama tidak dirugikan dan nyaman. Bagaimana menurutmu?” jelas Kyuhyun hati-hati.

Hyesung terpana mendengar penjelasan sistematis pria bermata cokelat dengan bintik hitam yang terlihat manis di bawah kelopak matanya itu yang entah kenapa melihatnya seperti ini menimbulkan geletar yang sama persis seperti sensasi yang dia rasakan waktu pria itu menciumnya.

To be continue...



1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...